Monday, February 27, 2012

Don't judge book from the cover

Yes. Yes.. Dari lubuk hatiku yang paling dalam getaran itu makin menyesakkan, membuatku ingin berpetualang dan terbang dalam buaian angin malam ini, melambungkan harapan tinggi hingga ku yakin pasti aku tak salah mengartikannya lagi.

Aku sangat menantikan hari ini. Walaupun sudah sekian kali dia memberiku beribu janji, tapi tak apa hati ini selalu sabar menanti kepastian yang dia beri. 

Dia, seseorang yang ku kenal hampir setahun yang lalu. Seseorang yang tak pernah aku duga akan mampu menggelitik bunga-bunga cinta yang kini siap berkembang kapan saja. Oh Tuhan.. aku selalu mendoakannya setiap malam. Masih ku ingat dengan jelas, malam itu kami sempat beribadah bersama. Suaranya yang lantang menyenandungkan kalimatmu, semakin membuat hati damai dan sedikit yakin dia bisa menjadi salah satu pilihanku.

Aku mengenalnya, tapi memang tak terlalu banyak yang ku ketahui dari dirinya. Yang aku tau pasti, dia baik dan taat pada agama, sosok yang ku nantikan bisa menjadi pendamping dalam hidupku. 

Aku tak melihat harta yang dimilikinya, walau aku sedikit-sedikit tau dia mempunyai jabatan di tempat kerjanya. Aku tak melihat parasnya, karena saat kau melihatnya pun kau tak kan langsung bilang "Wah.. cakep !!!" lalu cekikikan mencoba mencuri perhatiannya. Aku tidak begitu. Sekali lagi ku tegaskan. Aku tidak begitu.

Hari minggu akhirnya tiba juga. Kau tau badanku sedikit berisi. Terkadang aku tak terlalu menyukai postur tubuh seperti ini. Aku rela, kawan. Aku rela melenyapkan kebiasaan makan malamku dan mengurangi porsi makanku demi agar aku terlihat sempurna di depannya. Agar dia sedikit terpesona setelah sekian lama kami tak berjumpa. 

Aku anak mama ? Tentu saja, mamaku sangat memanjakan aku sehingga di usia hampir seperempat abad pun aku masih selalu di samping mama.

Tapi hari ini tidak. Hehe. Hampir sepanjang malam aku tak bisa memejamkan mata. Hari ini dia tiba dari kotanya, mengunjungiku, itu katanya. Kangen aku ? Tentu saja dia pernah bilang begitu. Jadi menurutmu, pantas kan kalau aku makin berharap padanya ? Dan tentu saja dia seringkali mengingatkanku makan dan ibadah. Sungguh, setitik demi setitik akhirnya hatiku semakin penuh dengan harapan untuk bisa menjadi pendampingnya. Dan lagi, aku tak bisa berbohong pada mama dan sahabat-sahabatku kalau aku sangat mengharapkannya datang kali ini untuk melamarku. Melamarku ? Ahaha. Kau baca saja ceritaku ini.

Kami mulai berjanji bertemu di tempat wisata di kota ini. Kami memang tak bergandengan tangan apalagi mengungkapkan perasaan yang kami pendam. Suaranya pun terdengar sangat memberiku harapan. Jiwaku bergejolak saat dia dengan seringnya mengambil foto-fotoku. Oh.. aku sendiri tak menghitung berapa kali dia menjepretku dengan kameranya itu. Dan dalam pertemuan kami kali ini, aku tak bohong.. aku merasa perlu tau seperti apa dia yang sebenarnya. Perlu kau tau, dia sahabat baiknya sepupuku dan karena itu, aku selalu yakin dia pantas mendapatkan perhatianku. Cinta, apakah sebentar lagi aku akan membangunmu dalam suatu mahligai rumah tangga ??? Aku sangat berharap, Tuhan.

Hari hampir berakhir. Sudah senja. Waktunya aku berpisah dengannya. Mungkin besok kami masih bisa bersama seperti hari ini. 

Tak apa walau tanpa kata cinta. Tak apa walau hanya sebentar saja. Dari pertemuan hari ini, aku sangat yakin dia pantas aku cintai.

Ku lihat handphone yang ku geletakkan di atas meja kamarku. Ingin ku ambil lalu ku telepon sepupuku disana. Aku tak ingin bercerita tentang hari ini. Aku..

"Rttt..."
"Rttt..."

Handphoneku berbunyi tepat saat aku menyentuh handphoneku.

Ya. Aku sangat senang. Ternyata dia yang meneleponku. Tapi..

"Boleh aku pinjem uang Rp.500.000 buat benerin kamera ?"

Hm.. aku tertegun sebentar. Aku bingung. Rasanya tak mungkin kamerany rusak begitu saja. Bukannya tadi dia sangat asyik mengambil foto ? Atau karena terlalu banyak foto-fotoku ? Ahaha.. aku tak sampai berpikiran seperti itu.

Aku tak pandai mencari alasan. Aku.. akhirnya menjawab iya saja sambil setengah bercanda.

Akhirnya telepon darinya berhasil aku tutup dan sekarang tinggal telepon Kak Budi, sepupuku.

Aku dengan ceria bukan main dibumbui dengan sedikit salah tingkah, akhirnya mampu mengucapkan sepatah kata kepada Kak Budi.

"Kak, dia itu seperti apa ?"

Kak Budi diam kemudian berkata..

"Suruh dia jujur."

Aku sontak terkejut dan terus memaksa Kak Budi, namun pada akhirnya..

"Yang kakak tau, dia mau menikah sebentar lagi."

"Klik."

Telepon selesai. Entah seperti apa rasanya saat itu. Sumpah, air mata ini sudah menggantung di sudut mata, tapi aku tetap butuh kejujuran dari dia. Dia terlalu memberi harapan tinggi untukku.

Persis di saat aku bertanya..

"Ya, tapi hubunganku dengannya sedang tak baik."

Aaah.. mulai detik itu juga, aku tak pernah menghiraukannya lagi. Air mataku memang sempat tak berhenti. Menangisi lelaki yang mempermainkan perasaan hatiku. Aaahh tidak.. Bodoh sekali aku yang hanya melihat sisi luarnya saja. Aaaaah.. rasanya teriak pun sudah percuma. Hatiku sudah terlanjur di robek-robek oleh tingkah lakunya. Aku ini apa ? Mengapa ? Kalau kau sudah punya dia disana, kenapa kau memberiku harapan indah ?

Kau lihat pelangi disana ? Warna-warna yang ada itu karena kau ada dalam setiap langkahku. Kau selalu menyanyikan aku lagu cinta, mengirimkan puisi berisi janji-janji indah, dan melukiskan perasaan yang sungguh.. aku kira itu yang paling sempurna.

Kau lihat secercah kerlip di langit itu ? Kerlip itu memang ku jaga agar tak pergi sehingga janjimu akan benar adanya dan aku menantikan itu hingga kerlip itu menjadi cahaya yang berpijar terang.

Kau tau bagaimana perasaanku ? Sungguh.. ku biarkan kau pergi jauh tenggelam di kedalaman laut sana. Tak perlu kau melemparkan ombak ke pesisirku. Tak perlu kan tinggalkan penyu-penyu itu di sekitarku. Karena aku.. aku sudah jauh dari laut itu dan kau tak kan lagi bisa menggapaiku.


~Inpirasi dari beloved friend - smile, cause u look beautiful when u smile.

Pelajaran yang bisa kita petik :
Don't judge book from the cover


==Jakarta, Selasa 28 February 2012, 02:51 AM==


No comments:

Post a Comment